Masa depan GenZ kok di lumpur? Itu komentar yang diterima Raka, 24 tahun, pas mutusin resign dari startup Jakarta dan pulang ke Subang. Gajinya 12 juta, tapi tiap hari ngerasa hidupnya cuma “bales email & nunggu weekend”. Sekarang? HP-nya penuh lumpur, kuku item, tapi senyumnya lebih lepas. Dia nanam melon premium di greenhouse 200 meter, jual via TikTok Live, omzet 40 juta sebulan. Dan Raka nggak sendirian. Tahun 2026, ada tren yang nggak disangka : Gen-Z rame-rame terjun ke pertanian . Bukan karena “nggak ada pilihan”, tapi karena mereka nemu 3 hal yang kantor AC nggak kasih : kendali, makna, dan panggung . Gen-Z tumbuh bareng notifikasi. Bangun tidur cek HP, kerja depan laptop, tidur ditemenin drama drakor. Pas pandemi, banyak yang ngerasain burnout digital. Tanah jadi pelarian. Bedanya sama generasi bapaknya, Gen-Z nggak nyangkul asal-asalan. Mereka bawa laptop ke saung. Sensor tanah IoT, drip irrigation , jualan pake live shopping . Bertani, tapi bahasanya t...
Salah Kaprah Massal Kebijakan Kantong Plastik Kantong Plastik muncul pertama kali pada masa lampau sebagai pengganti pemakaian paper bag atau pun kantong kain. Dengan pertimbangan biaya pada masa itu belum ada HTI (Hutan Tanaman Industri), tidak ada penanaman khusus buat produksi, sehingga bahan baku terus menipis. Serayu Daur Nusantara Plastik terus berevolusi, seperti sekitar tahun 2006 di Taiwan telah menggunakan kantong plastik yang bisa terurai sendiri di tanah (biodegradable). Plastik limbah akan cepat terurai oleh microba karena di buat dari bahan polimer di campur dengan bahan alami seperti dari jagung. Juga ada kebijakan denda jika buang sampah sembarangan. Dimaksudkan agar pengguna yang tidak bijak buang sampah sembarangan kapok dan yang lolos terbuang juga tidak terlalu lama terurai. Yang masih terjadi di Indonesia adalah kampanye larangan kantong plastik. Propaganda kuat dari pemegang kebijakan dan Lembaga Pecinta Alam. Di beberapa minimarket supermarket telah dihilangkan, ...