Tools Analytics yang Ngasih Jawaban, Bukan Grafik Doang Buka Seller Centre. Ada Business Insights , Data Compass , Iklan Shopee . Angka semua. Grafik naik-turun. Conversion rate 4.2%, traffic 12 ribu, ROAS 5.8. Keliatan keren. Tapi pas tutup toko, owner nanya: “Jadi bulan ini untung berapa? Budget iklan 20 juta itu nyumbang berapa closing ? CS yang mana yang paling bikin boncos?” Langsung buka Excel. Export 4 file. Vlookup . Sumif . 2 jam kemudian masih debat. Masalahnya, tools analytics bawaan Shopee itu hebat buat ngasih tau apa yang terjadi di toko . Tapi dia nggak nyambung sama apa yang dilakuin tim kamu . Padahal 80% closing di Shopee produk 500rb ke atas itu kejadian di chat, di WA, di follow up . Di gap inilah seller 2026 mulai pake “tools pihak ketiga” biar nggak jualan sambil meraba. Salah satu yang sering dibahas komunitas karena pendekatannya beda: Salesmetrix . Salesmetrix Bukan “BigSeller Versi Lain”. Dia Ngitung Manusia, Bukan Resi Pertama, clear -in dulu. Kalau ...
Tools Analytics yang Ngasih Jawaban, Bukan Grafik Doang
Buka Seller Centre. Ada Business Insights, Data Compass, Iklan Shopee. Angka semua. Grafik naik-turun. Conversion rate 4.2%, traffic 12 ribu, ROAS 5.8. Keliatan keren.
Tapi pas tutup toko, owner nanya: “Jadi bulan ini untung berapa? Budget iklan 20 juta itu nyumbang berapa closing? CS yang mana yang paling bikin boncos?”
Langsung buka Excel. Export 4 file. Vlookup. Sumif. 2 jam kemudian masih debat.
Masalahnya, tools analytics bawaan Shopee itu hebat buat ngasih tau apa yang terjadi di toko. Tapi dia nggak nyambung sama apa yang dilakuin tim kamu. Padahal 80% closing di Shopee produk 500rb ke atas itu kejadian di chat, di WA, di follow up.
Di gap inilah seller 2026 mulai pake “tools pihak ketiga” biar nggak jualan sambil meraba. Salah satu yang sering dibahas komunitas karena pendekatannya beda: Salesmetrix.
Salesmetrix Bukan “BigSeller Versi Lain”. Dia Ngitung Manusia, Bukan Resi
Pertama, clear-in dulu. Kalau kamu cari tools buat auto-sync stok 3 toko atau print resi 500 pcs, Salesmetrix bukan itu. Ginee, Jubelio, BigSeller yang pegang area sana.
Salesmetrix, sesuai yang ditulis di https://salesmetrix.id, posisinya adalah platform untuk ngukur & ningkatin kinerja tim sales.
Lah, emang seller Shopee punya “tim sales”? Punya. Namanya tim CS, admin WA, host live, closer. Mereka yang handle 100 chat jadi 20 closing. Dan performa mereka nggak ke-track di Shopee.
Kutipan yang relate banget di website Salesmetrix :
“Nggak tau follow up yang mana yang bikin deal jadi. Nggak tau sales mana yang paling produktif.”
Nah, tools analytics ini ngisi kekosongan itu. Dia nggak nganalisis Shopee. Dia nganalisis aktivitas tim kamu yang dapet traffic dari Shopee.
![]() |
| Tools Analytics Shopee |
Terus, Gimana Cara Pakainya Buat “Ngulitin” Data Shopee?
Bayangin gini. Traffic dari Shopee Ads & Shopee Live kamu lempar ke WA biar closing lebih enak. Di Seller Centre, journey-nya putus. Di Salesmetrix, journey-nya disambung.
Bikin “Kacamata” Buat Liat Sumber Cuan
Setiap lead yang masuk dari Shopee, tim kamu input ke Salesmetrix jadi 1 deal. Kasih tag: “Shopee Ads - Kemeja”, “Shopee Live 10.10”, “Shopee Video”.
Akhir bulan, buka dashboard. Langsung kebaca: Channel Shopee Live habisin budget 3jt, tapi hasilin deal won 75jt. Channel Shopee Ads habis 8jt, won cuma 22jt.
Ini data yang nggak bakal keluar dari Seller Centre. Karena Seller Centre nggak tau closing di WA. Ini yang dimaksud Salesmetrix sebagai “bikin kinerja terukur, bukan kira-kira”.
Bongkar Performa Tim CS, Bukan Cuma Response Rate
Shopee bangga sama Chat Response Rate 95%. Tapi fast response ≠ closing.
Di Salesmetrix, semua aktivitas dicatat: berapa kali follow up, berapa kali call, berapa lama handle 1 deal. Sistemnya ngasih skor.
Jadi kamu bisa bikin analytics versi manusia: “CS Rina response 5 menit, tapi closing rate 45% karena rajin follow up H+3. CS Doni response 1 menit, closing 15% karena abis jawab ‘ready kak’ ilang.”
Kamu jadi tau siapa yang butuh training closing, bukan cuma training ngetik cepet.
Lacak “Bocor Halus” yang Bikin Rugi
Analitik paling mahal itu yang nunjukin duit yang nggak jadi masuk.
Contoh : 1 bulan ada 400 deal masuk pipeline dari Shopee. Yang won cuma 120. Hilang 280 deal. Kenapa? Buka laporan Salesmetrix: 150 deal statusnya “Lost - Kemahalan”, 80 “Lost - Nggak Dibales Follow Up”, 50 “Lost - Pindah ke Kompetitor”.
Nah, ini insight. Bulan depan kamu tau: bikin bundling biar nggak “kemahalan”, bikin SOP follow up wajib H+1. Ini yang disebut Salesmetrix sebagai ngubah data jadi aksi.
Jadi, Ini Cocok Buat Seller Kayak Apa?
Kalau toko kamu masih di bawah 50 order/hari dan semua checkout langsung, pake Seller Centre aja cukup. Kebanyakan tools malah pusing.
Salesmetrix baru jadi game changer kalau
Omzet 50jt/bulan ke atas dan channel udah nyebar: Shopee, Toko, WA.
Produk butuh konsultasi: gadget, skincare, furniture, kelas 2jt-an. Ada proses selling.
Udah punya tim min. 2 orang. Karena yang dianalisis itu kerjaan tim.
Analytics Itu Bukan Buat Gaya-gayaan, Tapi Buat Nggak Rugi Diam-diam
Tools analytics Shopee itu bagus. Tapi dia cuma kasih setengah gambar. Setengahnya lagi ada di kepala CS kamu, di history WA, di follow up yang lupa.
Salesmetrix masuk buat nyambungin dua dunia itu. Biar kamu nggak cuma tau “iklan boncos”, tapi tau “boncos karena CS-nya nggak follow up”.
Karena di 2026, seller yang scale itu bukan yang paling rame live-nya. Tapi yang paling paham angka di balik rame itu.
Udah nggak zaman nanya “gimana bulan ini?” dijawab “kayaknya bagus, Kak”. Harus bisa jawab: “Bagus. Net profit 18%, disumbang 60% dari closing tim CS via WA.”

Komentar
Posting Komentar